Minggu, 26 Februari 2017

HEBOH!! "Presiden Bacaan Shalatnya Tidak Faseh", Mantan Jenderal ini Protes Kenapa Jokowi Jadi Imam Salat?



Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Anton T Digdoyo protes lantaran Presiden Jokowi menjadi imam salat jamak qasar di Masjid Al-Fattah, Ambon, Jumat (24/2).

[Jenderal (purn) Anton Tabah Digdoyo adalah juga seorang pemerhati Kepolisian]

Anton mempertanyakan kenapa presiden Jokowi dipilih untuk memimpin salat, sementara di sana ada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan mantan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Anton mengatakan, presiden Jokowi tidak fasih dalam membaca Alquran. Bahkan bisa disebut berantakan. Karena itu, ia menyayangkan Presiden Jokowi menjadi imam salat.



“Saya pernah lihat Jokowi jadi imam salat. Bukan hanya bacaannya kacau, tapi juga gerakan-gerakan salatnya, tuma’ninah, i’tidalnya pun masih kacau. Maka saya heran kok dia jadi imam salat. Padahal di situ ada banyak ulama seperti Pak Din, Menag,” jelas Anton saat dihubungi, Sabtu (25/2).

Mantan petinggi Polri ini mengatakan, untuk jadi imam salat, ada persyaratan minimal yang sangat ketat dan tegas. Salah satunya adalah bisa melafalkan bacaan salat dengan baik.

“Antara lain bacaannya bagus, iman akidahnya bagus, ilmu agamanya bagus dan lain-lain. Kalau persyaratan minimal tersebut tak dipenuhi, jangan jadi imam salat. Itu ibarat terjerumus ke jurang atau menjerumuskan diri ke jurang apalagi makmumnya ikut masuk jurang,” katanya mengingatkan.

Presiden Jokowi mendapat gelar kehormatan adat saat melakukan kunjungan kerja ke Maluku. (Instagram)



Presiden yang kemarin berkunjung ke Ambon untuk menghadiri acara Muhammadiyah dan masyarakat adat Maluku melaksanakan salat Jumat di Masjid Al-Fattah. Usai salat Jumat, dia bertanya kepada menteri agama apakah langsung melaksanakan salat Ashar jamak qasar.

“Saya jawab, ‘Iya pak, dan bapak yang jadi imamnya’,” kata Menag Lukman menceritakan.

Setelah itu, dia meneruskan, Din Syamsuddin langsung mengumumkan melalui pengeras suara bahwa akan diadakan salat Asar jamak qashar dengan imam Presiden Jokowi.

Untuk mengetahui bacaan Presiden Jokowi, bisa searching di google dengan kata kunci "bacaan sholat jokowi"

Sabtu, 25 Februari 2017

HEBOH!! Jokowi Semobil dengan Ahok, Fadli Zon: Bubarkan Saja Revolusi Mental Jika Kelaukan Presiden Seperti Itu


Peristiwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok semobil dengan Presiden Joko Widodo mengundang reaksi keras dari Wakil Ketua DPR, Fadli Zon.

Politisi Gerindra itu geram hingga menyebut program Revolusi Mental Presiden Jokowi tak ada guna. "Apa yang dilakukan Presiden Jokowi bertentangan dengan revolusi mental. Mental apa yang mau dibangun pemerintahan ini kalau seorang terdakwa saja itu dilindungi. Bubarkan saja revolusi mental. Sebaiknya bubarkan saja revolusi mental itu, nggak ada gunanya," kata Fadli saat dihubungi di Jakarta, hari ini.

Saat peninjauan proyek MRT, dua hari lalu, Jokowi satu mobil dengan Ahok.

Menurut Fadli, apa yang dilakukan Jokowi tersebut adalah tindakan yang tidak bijak.

"Apapun alasan dibelakang itu, ini kenyataan dan kejadian faktual dan itu menimbulkan perspektif yang berbeda-beda dan menurut saya presiden tidak bijak," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu.


Sumber Berita : Rimanews.com

Jumat, 24 Februari 2017

AROGAN!! Akibat Salah Tangkap Bandar Narkoba, Seorang Kakek Meninggal Setelah di Seret 20 M Lalu Muntah Darah Saat Akan di Giring Oleh Polisi

Hasil gambar untuk salah tangkap bapak tua meninggal setelah ditangkap polisi di surabaya
Tindakan arogan oleh oknum anggota kepolisian kembali terjadi di Surabaya, setelah kemarin oknum anggota polisi yang menjabat sebagai Kanit Lantas Polsek Sawahan, AKP Didik Sulistiyo yang melakukan pemukulan terhadap tukang parkir di sekitar Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (22/2) sekitar pukul 15.00 WIB di Tempel Sukorejo I/89B Surabaya tindakan serupa terjadi
Korban bernama Suharto (68), diduga sebagai bandar narkoba oleh oknum anggota Satreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Menurut saksi mata di lokasi, korban saat itu tengah berada di dalam rumahnya, dikagetkan dengan tiga oknum anggota polisi yang masuk dan memaksa menggeledah isi rumah korban. Saat itu, oknum polisi tersebut sedang melakukan pengembangan atas kasus narkoba yang sedang ditanganinya.
“Saat itu polisi cari rumah Devi Utomo (DU) yang merupakan pengedar dan dalam pencarian polisi, namun saat itu polisi yang tidak tahu rumah DU langsung masuk ke rumah korban dan sempat bertanya tentang keberadaan DU, saat korban menjawab kalau disitu bukan rumah DU, polisi malah membentak dan sempat mengancam akan menembak korban,” ujar salah satu anggota keluarga menceritakan kronologi salah tangkap tersebut, di rumah duka, Jumat (24/2).
Tak berhenti disitu, oknum polisi itu masih tetap mengacak-acak isi rumah guna mencari barang bukti, kemudian polisi menemukan sebuah plastik klip dan suntik bekas yang dianggap oknum tersebut sebagai barang bukti guna menjerat korban.
“Korban sudah bilang kalau dia sakit, dia tidak tahu apa-apa, soal plastik klip itu milik istri korban untuk tempat sambal, sedangkan suntik bekas itu milik anak korban, biasanya dipakai untuk memberi makan burung merpati,” imbuh saksi tersebut.
Tak menghiraukan kata-kata korban, oknum yang berjumlah tiga orang saat melakukan penggeledahan itu menyeret korban sejauh 20 meter keluar dari rumahnya, saat itu korban kembali mengingatkan kalau dirinya sedang sakit dan tidak kuat berjalan, namun lagi-lagi, oknum polisi Satreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak kembali membentak korban.
Rasmat, saksi lain yang menolong korban dan berada di belakang oknum polisi saat menyeret korban membenarkan hal tersebut, dirinya melihat langsung saat polisi membentak korban, bahkan saat korban terkulai usai memuntahkan cairan seperti darah sambil menghela nafas tak beraturan.
“Saat itu saya lihat sendiri, polisi tiga orang menyeret korban, meskipun korban bilang kalau sakit, malah dibentak, “alasan kamu, bajingan, bandar ya”, tidak lama korban terkulai sambil muntah darah, dia minta minum trus saya ambilkan di tempat tetangga,” ungkap Rasmat.
Setelah melihat korban terkapar dengan nafas tersengal, lagi-lagi tindakan oknum polisi arogan itu terekam mata Rasmat. Salah seorang oknum polisi membiarkan korban dan meminta rasmat untuk membawanya kembali kerumah.
“Pas korban terkapar di bangku ujung gang, polisi bilang “wes gowoen ngaleh iki, aku gak butuh wong loro-loroen”, terus mereka pergi,” papar Rasmat saat menirukan gaya oknum polisi tersebut berbicara.
Sekitar pukul 18.30 WIB, keluarga korban, membawa korban ke rumah sakit William Booth untuk menjalani perawatan intensif, setelah sempat dirawat kurang lebih satu hari, korban akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis sekitar pukul 15.00 WIB. Setelah itu, korban Suharto dimakamkan pada Jumat (24/2) sekitar pukul 9.00 WIB.
Sementara AKP Redik Tribawanto Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak saat dikonfirmasi mengatakan, tidak ada salah tangkap dalam penggerebekan terduga bandar narkoba di Jalan Tempel Sukorejo I. “Kami mengamankan Devi Utomo sebagai TO (Target Operasi) kami bersama barang bukti 0,32 gram sabu,” ujarnya.
Menurutnya, DU yang merupakan residivis, pernah ditahan di Lapas Medaeng dengan kasus yang sama selama tiga tahun dan baru bebas Januari 2017 lalu, telah menjadi buronan polisi. 

Kamis, 23 Februari 2017

LUAR BIASA INILAH KUALITAS PEMIMPIN SEBENARNYA..!!! PANGLIMA TNI GATOT MINTA ULAMA DOAKAN TNI KUAT JAGA "NKRI" SETUJU?? BAGIKAN..!

Hasil gambar untuk gatot Nurmantyo dan ulama

Panglima TNI Jenderal Pol Gatot Nurmantyo menyatakan apresiasinya atas peran serta para ulama dalam demo Bela Islam I II DAN III beberapa waktu lalu .



Walaupun para pendemo diprovokasi untuk berbuat anarkis, namun mereka tidak terpengaruh sama sekali, sehingga demonstrasi yang diikuti ribuan umat muslim di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia dapat berjalan dengan aman, tertib dan damai.
Hal tersebut dikatakan  Gatot saat berdialog dengan beberapa ulama dari banyak daerah, di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, tadi malam (Sabtu, 5/11).
“Saya sebagai umat Islam tahu betul bahwasanya saudara-saudara muslim saya yang melaksanakan demo kemarin adalah orang-orang baik yang berangkat dari masjid-masjid untuk menyampaikan aspirasinya,” kata Gatot.
Menurut Gatot, dunia internasional mengakui Islam di Indonesia yang demokratis dan dikenal dengan Rahmatan Lil Alamin. Gatot juga menyampaikan, sesuai instruksi Presiden Jokowi, dirinya bersama Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian ditugaskan untuk mengamankan jalannya demonstrasi tersebut agar terhindar anarkis dan tidak ditunggangi oleh kepentingan tertentu.

“Pada saat mengamankan jalannya demonstrasi, saya selaku Panglima TNI telah menegaskan kepada para prajurit yang berhadapan langsung dengan para pendemo, tugasmu adalah melindungi semuanya, namun apabila ada para pendemo yang melakukan anarkis bahkan radikal, maka yang kamu lindungi adalah rakyat Indonesia yang lebih besar, jangan sampai terkena dampak dari demo yang anarkis dan radikal tersebut,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gatot memohon doa dan dukungan dari para ulama agar TNI semakin kuat melindungi bangsa ini, serta sebagai pengayom masyarakat demi tetap tegaknya NKRI.

“Apabila ulama dan umaroh baik, maka baiklah negara ini, namun apabila ulama dan umaroh tidak baik, maka tinggal menunggu kehancuran suatu bangsa,” kata KH Zailani Imam yang turut hadir dalam pertemuan itu.
Dialog antara Panglima TNI dengan para ulama tersebut diikuti oleh beberapa pimpinan pondok pesantren, diantaranya Ponpes Babakan dan  Buntet Cirebon, Al-Huda Aceh Besar, Al-Mustakinia Bogor, dan Majelis Rosululloh serta Lembaga Islam An-Nahar. Dialog ditutup dengan pembacaan doa  oleh kiai Muhtadi Dimyati dari Ponpes Raudatul Ulum Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten.(ts/rmol)

sumber: http://www.pribumi.win

GEMPAR!! DPR SIAP MELAKUKAN MOSI SUDAH TIDAK PERCAYA PADA PEMRINTAHAN JOKOWI.. APAKAH INI AKHIR ERA JOKOWI??

Hasil gambar untuk jokowi nangis

JAKARTA - Sikap Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang berani pasang badan untuk tidak menonaktifkan kembali Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai gubernur DKI Jakarta sangat merugikan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Baru kali ini publik melihat seorang mendagri menafsirkan aturan perundang-undangan dan meyakini bahwa keputusannya tidak menonaktifkan Ahok adalah sebuah kebenaran, seolah mendagri berposisi sebagai pengacara Ahok. Sementara sudah banyak kasus pada saat pilkada berlangsung calon kepala daerah dari pertahana yang terjerat kasus hukum dengan status tersangka diberhentikan oleh mendagri,” jelas pengamat politik Panji Nugraha kepada wartawan di Jakarta, Rabu (22/2).

Dia menilai, kasus penistaan agama yang melibatkan Ahok sebagai terdakwa akan membuat posisi Jokowi tertekan jika tidak bersikap dan menyerahkan urusan itu kepada mendagri yang notabene mantan petinggi PDI Perjuangan. Bahkan, sampai kasus itu menjadi polemik yang berlarut akan membuat masyarakat makin tidak percaya terhadap rezim Jokowi.

“Sebaiknya Jokowi bersikap untuk memberhentikan Ahok, karena secara tata negara presiden berada di atas mendagri dan seorang menteri harus mematuhi keputusan presiden,” kata Panji.

Lebih jauh, argumentasi hukum dalam undang-undang sudah pasti dan jelas tidak multitafsir bahwa Ahok harus diberhentikan sementara. Menurut Panji, Presiden Jokowi tinggal memutuskan penonaktifan dikarenakan potensi penyalahgunaan kewenangan seorang petahana yang mengikuti kontestasi pilkada sangat besar.

“Yang paling perlu diperhatikan adalah kewajiban pemerintah untuk melaksanakan undang-undang, karena jika tidak, cukup alasan bagi DPR untuk menggulirkan mosi tidak percaya kepada Jokowi. Dan yang paling berbahaya, Jokowi harus menghindari asumsi publik jika Jokowi tunduk pada mendagri sebagai salah satu tokoh partai penguasa dan pengusungnya pada pilpres lalu. Karena banyak yang menilai kasus ini sarat kepentingan politik,” tegas Panji yang juga direktur eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI).

Dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI tadi pagi, Mendagri Tjahjo Kumolo menyatakan bahwa keputusannya belum menonaktifkan Ahok karena dakwaan jaksa terhadap mantan bupati Bangka Belitung itu berlapis. Dia mengaku harus bersikap adil, contohnya Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang tetap menjabat meski sudah berstatus terdakwa. Dengan keputusan itu, Tjahjo pun menolak dianggap membela Ahok.[psi]
SUMBER BERITA DARI POSMETRO.INFO